Kebencianku padamu mengaliri jantungku.

Ketika aku menggantungkan hidup padamu, kau buang aku jauh.

Ketika dingin menerpa, kau acuhkan aku hingga begini beku.

Ketika terjatuh, kau acuhkan aku hingga begini berlumpur dendam.

Ketika kulihat matahari aku bersumpah,

akan kubayar semua yang kau berikan padaku.

Akan kutunjukkan aku mampu menggenggam dunia.

Akan kuperlihatkan aku tak butuh dirimu.

 

Satu yang tak pernah bisa kusangkal,

sezarah bagian selku adalah milikmu.

Bahwa ternyata dalam setiap tarikan nafas ini,

ada setitik rindu yang terhirup,

terakumulasi dan perlahan bermetamorfosis,

menjadi tak tertahankan.

 

Aku tak menolak kau banjiri dengan hitam.

Kau mau cabik raga ini, silakan.

Aku tak apa kau garami luka ini.

Kau mau tebas jiwa ini, silakan.

Demi menggenggammu sekali ini,

aku sudah menyerahkan segalanya.

Bahkan membuang jauh mahkota,

merendah sampai mencium tanah.

 

Hanya satu pintaku: jangan tolak aku.

Bukan senyum indah,

bukan bisikan cinta,

bukan tatapan sayang,

bukan pelukan hangat.

Biarkan aku di sini untuk pertama dan yang terakhir.

 

Melihatmu begini tak berdaya, aku tak merasakan kepuasan.

Melihatmu begini tak berdaya, dadaku mendadak sesak.

Ada bening yang memaksa keluar.

 

Meski hingga akhir aku tak pernah tahu mengapa kau begitu tidak ingin melihatku,

meski aku tahu aku membencimu seumur hidupku,

tapi rupanya di hati ini ada setitik perasaan dalam bentuk lain untukmu.

 

2010.01.17 22:29

 

 

 

Sebuah puisi lama. Entah kenapa tiba-tiba ingin mengunggah ini…

 

nizzyool.

Advertisements